Pages

Rumah Tanpa Jendela [2011]

Bookmark and Share

Rumah tanpa jendela adalah film arahan aditya gumay yang diangkat dari cerita pendek berjudul “jendela rara” karangan asma nadia. Bercerita tentang rara (dwi tasya) seorang anak penjual ikan hias bernama raga (raffi ahmad) yang tinggal disebuah perkampungan kumuh bersama si mbok (inggrid widjanarko). Rara mempunyai mimpi yang sangat sederhana dan bahkan nggak bakalan pernah terlintas dipikiran kita kalau dia ingin memiliki sebuah jendela untuk rumahnya. Namun setelah melihat keadaan rumahnya yang cukup memprihatinkan, rasanya nggak salah kalau mimpi kecil itu terasa begitu indah dan mulia.

Disisi lain, yang saling bertolak belakang, diceritakan sosok aldo (emir mahira) yang memiliki keterbelakangan mental namun hidup lebih dari berkecukupan bersama keluarga yang bahagia. Oh, tidak semuanya bahagia rupanya. karena ada andini (maudy ayunda) yang sepertinya malu memiliki adik ‘nggak beres’ seperti aldo.

Dan ketika dua karakter ini dipertemukan dalam sebuah peristiwa yang bersifat kebetulan, mengalirlah sebuah cerita yang sangat menarik untuk diikuti.

Honestly, dari awal gue udah berekspetasi lebih bahwa film ini sangat menjanjikan. Dan benar saja, rumah tanpa jendela ternyata lebih dari itu. Inilah film yang gue tunggu-tunggu nongol dilayar bioskop Indonesia. seakan menjawab dahaga gue akan sejuknya melihat film yang begitu menghibur dan penuh makna tanpa harus terkesan menggurui.

Film dibuka dengan prolog tentang impian rara lalu scene musical anak-anak yang menghibur dan beruntungnya ternyata itu hanya halusinasi rara. Karena kadang gue suka enek lihat film musikal yang tiba-tiba nyanyi kek film India. Terkesan lebay aja gitu.

Dan semakin cerita berjalan, film semakin menarik untuk diikuti, cuman sayang aja ditengah-tengah kok terkesan bertele ya. Banyak sub plot yang membuat film ini kayak sinetron meski nggak sepenuhnya mengganggu sih.

Salut sama om aditya gumay yang piawai banget mengarahkan dua bintang cilik di film ini meski cara ngeshoot dia agak-agak gimana gitu. Gue suka sama dwi tasya. Mukanya tuh nggak cantik tapi lucu dan enak aja dilihat. Aktingnya juga sederhana dan nggak dibuat-buat seperti salma paramitha di film rindu purnama yang sok tua, pantes aja deh, bekas pemain sinetron. Kredit special buat emir mahira yang great, jago banget aktingnya jadi anak cacat. Ntar deh gue lihat acting dia di film sebelumnya.

Pemain pendukung lain juga nggak kalah keren seperti maudy ayunda yang makin gede makin cantik, inggrid widjanarko, aty cancer (nenek aldo), alicia johar (ibu ratna, ibu aldo), quzan ruz (adam, kakak aldo), aswin fabanyo (pak syahri, ayah aldo), billy davidson (rio, gebetan andini), varissa camellia (bu alya) serta ada yuni shara yang wow, meski hanya tampil di dua scene tapi cukup oke loh aktingnya. dan gue agak sentimen sedikit sama raffi ahmad. Kenapa harus dia sih? Bosen tauk liat mukanya. Kayak nggak ada orang lain aja. Tapi gapapa deh toh penilaian gue yang ini secara individu. Jadi nggak connect juga sama filmnya hehe…

And you know what, gue ngaku kalo air mata gue keluar disalah satu adegan ketika ada cerita flashback masa lalu rio dengan kembarannya. Emosinya ngena banget dihati gue. Sampe nggak kerasa air mata gue turun. Oh my… kenapa gue jadi mendadak lebay dan melankolis gini? #abaikan

So, dari segala penilaian diatas, rasanya nggak salah kalau gue bilang rumah tanpa jendela adalah film keluarga paling komplit tahun ini. Dari musiknya, dramanya, cinta-cintaan, komedi, terus pesan yang disampaikan dan dialog yang sedikit menyentil seperti bacotan yang diucapin temen andini: “what’s wrong with my congor?” buset, di daerah gue kata ‘congor’ itu jarang digunakan karena lumayan kasar meski nggak sekotor kata ‘jancok’. Haha… kecuali kalo lagi ejek-ejekan sama temen sih bolehlah.

Meski satu pondasi dengan rindu purnama dalam segi genre dan tema, tapi film ini lebih mature dalam memvisualisasikan bagaimana dunia anak-anak yang sebenarnya. Mungkin nantinya mathias muchus dan aditya gumay bisa bekerja sama untuk membuat film anak-anak yang lebih baik lagi daripada sebelumnya. Karena jujur aja, rindu purnama masih terasa seperti film yang bukan ditujukan untuk anak-anak.

mugkin agak terlambat bagi gue untuk mereview rumah tanpa jendela karena filmnya sendiri baru muncul dikota gue pada minggu ketiga. tapi serius deh, sangat sayang jika kalian melewatkan film satu ini!

at least, kok poster yang dipajang dibioskop kecil gitu ya? nggak kayak ukuran poster normal deh. tanya kenapa?

rating 7.5/10

http://www.smileycodes.info

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar