Pages

Ayah, Mengapa Aku Berbeda? [2011]

Bookmark and Share

“Mereka bilang aku berbeda. Aku tidak mengerti kenapa. Padahal, aku dilahirkan dengan cara yang sama...” ~ Angel

Memanfaatkan sebuah euphoria sebenarnya sah-sah saja. Itu Indonesia banget. Nggak usah heran kalo perfilman kita selalu saja latah mengeksploitasi hal itu. Dan nggak usah heran pula kalo hasilnya kebanyakan hancur total alias menyampah sembarangan!

Ayah, Mengapa Aku Berbeda? adalah sebuah trend lanjutan dari suksesnya Surat Kecil Untuk Tuhan. Dimana dengan jeli sang produser membaca market: bagaimana cara mengeruk keuntungan dari labilers se-Indonesia raya. Maka diadaptasilah sebuah novel yang diklaim sudah dibaca 2 juta readers secara online. Dan langsung memilih Dinda Hauw yang mendadak jadi ‘sesuatu’ setelah debutnya sukses menarik 748.842 penonton sebagai pemeran utama. Sampai disini nggak ada masalah memang. Tapi semua berubah tidak menyenangkan ketika menikmati jalinan visualisasi dari novel besutan Agnes dan Teddy, atau yang lebih kita kenal dengan Agnes Davonar.

Film ini sudah menjengkelkan sejak awal. Dan semakin menjadi-jadi hingga credit akhir muncul. Gimana enggak, dari awal kita sudah disodori dengan tangisan-tangisan lebay tidak pada tempatnya. Hell, bikin film tearjerker sih tearjerker aja. Tapi nggak mesti gini-gini juga kali. Masa iya tiap ngapa-ngapain keluar air mata, dikit-dikit keluar air mata. Kenapa nggak nikahin gue aja sekalian? Fuck off banget lah! Bahkan gue udah nggak peduli gimana nasib akhir Angel; cewek tersial di dunia yang diperankan dengan sangat biasa oleh Dinda Hauw. Karena gue udah capek diajak untuk terus bersimpati pada karakter stupid bin corny di layar bioskop. Thanks untuk kerja tim penulis skenarionya: Titien Wattimena, Djamil Aurora dan Agnes Davonar, karena telah membuat film berdurasi 99 menit ini tidak penting untuk disimak.

Hal diatas makin diperburuk oleh jajaran pemeran pembantu di film ini. Selain Fendy Chow dan Kiki Azhari dengan akting nggak banget a la sinetron di RCTI, swear KK Dheeraj gue timpuk sama pispot, Rafi Cinoun adalah kesalahan terbesar Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Hell, bagian casting tolong bersihin mata pake insto dong. Masa iya lo milih artis kek gini. Minimal yang rada beneran dikit deh. Ditinjau dari segi mana sih coba kalo muka Rafi tuh enak dipandang? *pengen muntah sambil kayang*

Selain cerita dan akting yang failed, kegagalan demi kegagalan terus berlanjut hingga membuat film arahan Findo Purwono ini makin tidak jelas. Seperti gambaran kedokteran yang ngasal, bloopers dimana-mana dan subtitle adegan gagu yang muncul disaat-saat nggak worth it. Bikin gue berkali-kali mengerutkan jidat saking gagal pahamnya.

And yes, cukup seperti itulah siksaan yang disodorkan oleh produksi terbaru Rapi Film di tahun 2011 ini. Nggak horror, nggak drama, film-film produksinya emang bikin gue ngoceh ngalor ngidul sambil ngupil. Percayalah, bagian terbaik film ini terletak ketika secara tiba-tiba terdengar suara Agnes Monica dengan hitz-nya berjudul Rapuh. At least, bukan film yang buruk. Tapi terkadang kita harus tahu dimana batas antara cerita dalam novel yang perlu divisualisasikan agar tidak tampak berlebihan dan menyedihkan. Lalu apakah jawaban dari pertanyaan “Ayah, mengapa aku berbeda?”, tanyain aja sama rumput yang bergoyang.

By the way sebelum gue tutup reviewnya, masih perlu nggak gue kasih detail sinopsis ceritanya?

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar