Pages

Love Story [2011]

Bookmark and Share

REVIEW INI MENGANDUNG SPOILER!

"Cinta tidak membuat kegelapan justru cinta itu menerangi,cinta tidak akan membuat aku menyerah, justru aku akan memperjuangkannya"

Dari awal sebenarnya udah banyak yang bilang kalo film ini bakalan lebe abis. Tapi entah kenapa gue masih berniat menontonnya di hari pertama pemutaran serentak di jaringan 21. gue nggak tertarik sama posternya yang standar dan terlalu bright, gue juga gak suka soundtracknya yang lagi-lagi dibawain melly. Seolah-olah nggak ada penyanyi lain. Yang mana dititik ini gue mulai jenuh sama melly yang suka maksa kalo bikin lirik campur antara bahasa Indonesia sama bahasa inggris.

Opening film bercerita tentang sebuah dongeng rakyat yang dibacakan secara bergantian oleh henidar amroe dan maudy koesnaedy pada acha dan irwansyah kecil. dongeng tentang kisah cinta joko angin-angin kepada dewi bulan yang akhirnya berubah jadi kutukan. dimana terdapat sebuah pantangan yang menyebutkan jika ada sepasang kekasih tinggal berseberangan desa dan dipisahkan oleh sungai, dilarang saling jatuh cinta. dan dipercayai barang siapa yang berani melanggar akan tertimpa becana. Bukan hanya malapetaka bagi yang melanggar, tapi juga orang lain disekitarnya.

Scene lalu berganti ke adegan lari-larian dua bocah SD. Disini sebenarnya sudah mulai tampak gejala-gejala error di film ini. Lihat aja deh, saat lari si bocah cewek sempat berteriak: “galih, ayo cepat, nanti telat datang ke sekolah.”. tapi anehnya, tiba-tiba si cewek diam ditempat sambil melihat kagum ke arah bis seolah bis itu adalah mobil yang diisi artis kek dewi perssik. Coba deh, maksudnya apaan coba? Oke, discene ketika bocah-bocah ini mulai tumbuh dewasa, bis ini nanti akan jadi bagian cerita. Tapi apa perlu penyampaiannya sebodoh itu? lalu kenapa pula mimik muka guru SD si  bocah cewek berubah gusar/takut ketika tahu kalo cita-cita acha kecil adalah menjadi guru. tanya kenapa?

Film pun berjalan. Terus… terus… sampai gue mulai ngantuk dan pengen cepet-cepet keluar studio 2 sebelum bener-bener ketiduran. Sumpah, padahal durasinya cuman satu setengah jam. Tapi sejam pertama cerita berjalan flat tanpa emosi, membosankan dan dipenuhi dialog-dialog puitis super kancrut yang kayaknya gak bakalan diucapin remaja-remaja jaman sekarang kayak gue. Selain terkesan E.Y.D, bahasa yang digunain terlalu berlebihan dan hiperbola stadium akhir. Berani jamin, nggak bakalan ada cowok yang mau-maunya ngerayu cewek pake omongan semacam ini:

“hei, ..... (titik-titik ini boleh diisi pake nama cewek lo. Entah dia Sin dari nama Sinta atau Tin dari nama Tini), aku berjanji akan menjaga cinta kita yang seperti bola bekel ini sampai aku dan kamu terkubur dalam tanah penuh kotoran sapi. Atau sampai sang surya tak lagi bersinar karena udah sore jadinya dia tenggelam, atau apapunlah.. “ gue nggak jadi nerusin karena kehabisan ide. Hehehe…

Dan pasti si cewek bakalan bilang:

“ngemeng apaan she lo nyet, lebay banget deh jadi cowok!!”

JREBB!! Kata-kata yang begitu menusuk hati cowok yang paling dalam dan paling mentok.

Jadi gue maklum kalo dari awal sampe akhir film, bahkan saat si irwansyah sekarat, sempet-sempetnya ceramah soal hal menye-menye didunia dengan logat bicaranya yang gag asyik di denger kuping. Gue sampe ngakak pas bagian-bagian dimana gombalisme picisan cinta mulai bertebaran. seperti gue yang menebarkan kegombalan-kegombalan itu di review kali ini. Kok bisa sih scriptwriternya make kata-kata kek gitu? Berasa lagi liat film tahun kapan gitu.

"biarpun raga kita tak bisa bersatu tapi jiwa kita akan selalu menyatu. Buat apa ada raga jika tanpa jiwa, buat apa ada jiwa jika tanpa cinta"

Eh, tapi ada yang paling parah, coba bagi lo yang udah liat, dengerin apa yang diomongin henidar amroe ketika melarang acha yang sedang sekarat di rumah sakit. Dia bilang: “pliss, jangan pergi ranti.” lho, kok pliss? Padahal karakter si miss amroe kan jadi nenek-nenek kolot. Gimana bisa tau kata pliss? Oh, iya gue lupa kalo ada kamus di kamar acha yang penuh buku-buku pelajaran.

Selain kelebayan soal kosa kata, cerita film ini juga terlalu lebay dalam menceritakan sesuatu. Nggak ada yang salah sama niat irwansyah membangun sekolah-sekolahan di tengah sawah. Tapi masa iya, katanya sudah punya cukup uang, tapi bikin rumah dan kincir angin sendirian aja. Apa kabar tuh tukang-tukang bangunan? Parahnya, irwansyah ngerjain bangunan sekolah ketika lagi sakit parah. Dan selesai mengerjakan dalam waktu beberapa hari selama acha masuk rumah sakit. Hahaha, logika nya nggak dipake tuh…

"Apalah arti raga tanpa jiwa. Dan apalah arti jiwa jika di dalamnya tidak ada cinta"

Oke, stop ngomongin soal cerita yang nggak bisa diharapkan. Berganti ngomongin om hanny yang sukses bikin gue kagum sama cara dia ngehandle sudut pandang sehingga apa yang terlihat di layar tuh enak banget di tonton. Suasana hijau persawahan, sungai dan panorama pedesaan berhasil terekam dalam lanskap yang indah dan megah.

"Hanya satu yg aku yakini, cinta itu tidak mematikan, justru menghidupkan"

Dari segi akting semua serba enak dipandang. Especially acha and of course, aktor terbaik FFI 2010, reza rahadian yang memikat banget aktingnya meski tanpa dialog dan hanya teriak-teriak.

Love story, menjadi penutup trilogi cinta acha-irwansyah yang megah dan terbaik dari berbagai segi kecuali cerita yang kancut. Tapi gue lebih suka segmen heart. Dimana ceritanya lebih menyentuh, apalagi eksekusinya yang happy ending meski cara penyutradaraan om hanny kelihatan nggak asyik disini. dan mencoba melupakan kalo love is cinta pernah ada. Bagi elo yang udah liat dua seri sebelumnya, pasti tau gimana kita harus bersikap mengetahui akhir ceritanya.

Mungkin para cewek ato anak SMP yang nonton bakalan nangis tau endingnya. Tapi sori aja buat gue, endingnya terlalu biasa. Bahkan gue ketawa lho. Serius. Masa iya si irwansyah sempet-sempetnya pidato sepanjang sabang sampai merauke sebelum mati? Hahaha..

Rating 4.5/10
http://www.smileycodes.info

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar