Pages

Pupus [2011]

Bookmark and Share

Kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan terganti...

Alasan pertama kali untuk menonton Pupus ada tiga. Satu, karena trailernya yang unik. Dua, teaser posternya yang membuat gue terlena—ya, gue salah satu dari sekian banyak orang yang suka melihat film dari posternya. Terakhir, karena ada Donita. Rasanya wajar saja jika ekspetasi gue begitu berlebihan. Gue suka film-film yang mampu menyentuh emosi, jadi nggak salah kan kalo gue berharap bakal tersentuh saat melihat keseluruhan film. Karena dari trailer berdurasi 2 menit itu saja sudah mampu membuat gue begitu terhipnotis. Lalu, bagaimana tanggapan setelah menonton film ini secara utuh?

Bercerita tentang Cindy (Donita) mahasiswa baru asal lampung yang kuliah jurusan teknik sipil dan perencanaan di sebuah perguruan tinggi ternama di jakarta. Dihari pertama ospek yang bertepatan dengan ulang tahunnya, secara kebetulan dia bertemu dengan Panji (Marcell Chandrawinata), senior di kampus yang juga berulang tahun, gara-gara dikerjain oleh salah satu panitia ospek yang bernama Eros (Ichsan Akbar). Dari pertemuan itulah muncul semacam chemistry diantara Cindy dan Panji. Akhirnya merekapun bisa cepat akrab dan saling jatuh cinta.

Tapi rupanya Panji bukan orang yang mudah ditebak. Hingga akhirnya Cindy malah jatuh pada pelukan cowok lain yang bernama Hugo (Arthur Brotolaras). Meski sebenarnya Cindy masih berharap bahwa Panji akan cemburu dan merebut hatinya kembali. Tapi semua sia-sia karena Panji masih tetep gak jelas dan egois. Lalu bagaimana nasib percintaan Cindy selanjutnya? Sanggupkah dia menaklukan keegoisan Panji atau memilih memupuskan semua harapannya?

Pupus adalah film kedua arahan Rizal Mantovani dibawah bendera Maxima Pictures yang tumben bikin film ‘bener’ setelah Jenglot Pantai Selatan yang sangat menyampah. Sedang untuk urusan naskah kembali dipercayakan pada Alim Sudio yang sudah berkali-kali berkerja sama dengan Rizal Mantovani dan Maxima Pictures. Lihat saja kolaborasi orang-orang ini dalam Ada Kamu, Aku Ada, Taring serta Air Terjun Pengantin.

Sebenarnya apa yang ditawarkan Pupus sederhana saja—jika nggak mau dibilang chessy dan corny khas film televisi kekinian. Tapi hal itu diperburuk oleh hal-hal yang bisa terbilang fatal dan menghancurkan isi fimnya sendiri. Cek daftar dibawah ini:

1. Pengeditan adegan yang kasar banget. Apakah ini hasil dari filmmaker yang sudah punya nama? Terlihat sangat amatir. Parahnya ada adegan yang mungkin salah peletakan tapi fatal dan sukses merusak cerita. Perhatikan adegan ketika Cindy dan Hugo datang ke kampus ketika baru pertama kali jadian. Tahu-tahu lokasi lalu berpindah di depan rumah Hugo dan terjadi percakapan yang kayaknya nggak penting. Setelah itu lokasi kembali lagi ke kampus dengan wardrobe yang masih sama sebelum adegan berpindah. Kalo masih bingung perhatikan rambut Donita antara scene dikampus dan didepan rumah Hugo.

2. Pencahayaannya norak. Lebay banget deh. Dan gejalanya udah kerasa dari mulai opening, tapi gue kira cuma itu aja, gataunya semakin durasi berjalan, warna gambar semakin silau men. Siang sama malam nggak bisa dibedain.

3. Timeline cerita nggak jelas. Coba perhatikan scene ketika Cindy pulang dugem. Kalo nggak salah kejadiannya pas ultah jam 12 malam. Anehnya, Panji datang ke kos Cindy dan menemukan temen sekos Cindy sedang berjalan sambil membaca buku. Emang belajar mesti jam 12 malem neng. Trus lagi, kenapa Panji dateng ke kos-kosan cewek tengah malam cuma buat ngasi hadiah celemek bertuliskan “Cindy The Lovely Chef”. Bukankah diawal adegan Cindy bilang ke Ibunya kalau kos-kosannya khusus cewek dan aman. Kenapa bisa selongar itu? What the..?

4. Dengan alur penceritaan maju, banyak banget hal-hal nggak penting yang dimasukin. Sehingga meninggalkan banyak lubang menganga yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan beberapa plot hole itu. Contohnya: bagaimana kisah audisi paduan suara Cindy? kemana perginya Panji setelah berkencan dengan Cindy? Kenapa Cindy marahnya cuma gitu doang setelah ditinggal gitu aja? bagaimana kisah Hugo yang ketauan membawa cewek lain ke rumahnya karena tiba-tiba dia lenyap dan nggak muncul lagi.

Dan empat ‘kebaikan’ diatas makin diperparah dengan akting semua pemain dari utama sampe pelengkap yang so so standar. Bahkan Donita pun, mengingat fakta bahwa gue sangat berharap sama dia untuk bisa sedikit menolong film ini, malah berakting seperti apa yang biasa dia tampilkan di cinta fitri. Entah dia kurang bisa eksplor atau gimana, yang pasti Donita sangat membuang-buang bakat. Dimana dia dijatuhi peran utama, peran vital, tapi aktingnya kayak peran pendukung di Pocong Rumah Angker. Percayalah, bagian terbaik dari film ini memang hanya terletak di trailernya. Dimana Donita terlihat begitu all out.

Sebenarnya Pupus sangat berpotensi jadi drama tearjerker yang sukses mengeruk simpati penonton. Tapi sayang, semua gagal dieksekusi dengan baik. Gue malah nggak bersimpati sama sekali dengan tokoh Cindy dan Marcell. Malah gue rasa sudah cukup disiksa selama ada di dalam bioskop dengan cerita mereka yang sukses bikin gue galau plus mendadak migrain. Dan lebih bersyukur lagi ketika tiba-tiba muncul credit title dan lampu menyala.

rating 4/10

http://www.smileycodes.info

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar