Pages

Purple Love [2011]

Bookmark and Share

Cerita bermula ketika Pasha akan melamar pacarnya, Lisa (Qory Sandioriva). Namun siapa yang menyangka kalo Lisa tiba-tiba memutuskan hubungan secara sepihak lewat telepon dan lebih memilih lelaki lain daripada menerima pinangan Pasha. Setelah kejadian itu, hidup Pasha hancur total. Membuat Maky, Rowman, Oncy dan Enda, sahabat karib yang bersama-sama mendirikan sebuah jasa advertise berlabel Heaven, kelimpungan. Berangkat dari hal itu, Maky mengusulkan teman-temannya untuk meminta bantuan pada klink cinta bernama Purple Heart.

Klinik Purple Heart ini dikomandoi sendiri oleh Thalita (Nirina Zubir), sosok cewek yang tak segan-segan membantu siapapun orang yang membutuhkan pertolongannya. Terutama soal cinta. Dan kali ini tugasnya adalah membantu Pasha yang patah hati, menyembuhkan luka-luka dihatinya. Bahkan kalo bisa membuka hati cowok satu itu untuk orang lain

Dari segi tema yang diambil, Purple Love sebenarnya sangatlah usang. Ide semacam ini pernah dilihat dalam Heart-Break.Com dan sederet rom-com luar negeri. Tapi tak ada salahnya, hal yang sah malah, toh yang penting bagaimana cara sang sutradara menyampaikan film ini secara utuh agar tampak berbeda dan menarik.

Ini adalah film ketiga Guntur Soeharjanto setelah debut lewat Otomatis Romantis. Menurut gue, nggak ada yang salah sama dia. Cara penyutradaraan oke-oke aja. Kesalahan fatal terletak pada skenarionya. Yup, limpahkan kekesalan kalian pada Cassandra Massardi yang membuat Purple Love sedemikian corny.

Satu jam pertama, ritme film masih mencari, tapi entah kenapa gue enjoy lihatnya. Pengenalan karakternya dapet dan begitu mudah menyatu. Tapi pada paruh kedua, cerita mulai lebay, kehilangan arah, dibumbui dengan dialog chessy, keklisean film Indonesia yang makin membuat bosan, serta hilangnya subplot menghibur seperti kisah cinta unik antara Oncy dan si cewek alay masa kini bernama Shelly yang diperankan dengan sangat outstanding oleh Kirana Larasati.

Belum lagi dipenghujung akhir ada sebuah twist nggak penting yang menurut gue nggak berguna. Mungkin niatnya mau menguras emosi penonton sampe titik terendah. Tapi hasilnya malah terkesan dipaksakan. Parahnya, Casandra melakukan kesalahan fatal dengan begitu asal memasukan bumbu penyakit mematikan tanpa riset. Seenggaknya kalo googling gak usah setengah-setengah. Ini film lho jeng, bukan komik buat anak SD.

Gak bisa dipungkiri kalo banyak yang bilang kehadiran Purple Love hanya taktik bisinis dengan menjual nama band yang lagi ‘in’ dikalangan remaja saat ini. Apalagi lagu-lagu mereka yang berisi lirik puitis begitu mudah dicerna serta harmonisasi nada catchy yang pas dibuat untuk menemani keadaan galau bisa membuat siapapun tiba-tiba mendadak jadi fans berat.

Tapi ternyata, anggapan itu nggak sepenuhnya benar. Memang, hadirnya personil ungu sebagai pemain utama, bisa menjadi magnet bagi fans berat mereka—entah apa nama sebutannya, sori, gue emang kuper, dan nggak minat cari tau untuk membuktikan bahwa gue fanatik ungu—yang bisa menarik keuntungan bagi filmnya sendiri. Tapi terlepas dari hal itu, debut akting Pasha cs. nggak mengecewakan, semua tampil lepas.

Soal akting, kita mulai absen dari Nirina. Peran yang dibawain istri Ernest Cokelat ini setipe sih. Nggak ada yang bisa ditonjolkan. Sudah terlalu biasa melihat dia berakting seperti ini. Tetap enak dilihat dan aman-aman aja. Kehadiran Qory, si putri indonesia 2009 nampak sia-sia karena akting dia sangat biasa kalo gak mau dikatain buruk. Bahkan misal yang main bukan dia, Purple Love tetap akan berjalan lancar. Kredit special plus big hug gue kasi buat Kirana Larasati yang unyu banget apalagi pas baca bagian SMS dia, belum lagi tingkanya yang emang gokil. Huahuahua… mantap deh.

At least, meski bagian yang menarik dari film ini cuma satu jam pertama, Purple Love tetep enak untuk dinikmati kok. Yah, nggak buruk-buruk amat deh. Terutama bagi fans berat ungu. Pasti bakalan heboh sendiri.

NOTE: menonton film ini adalah pengalaman menyenangkan. Terlepas dari gejala corny yang melanda, gue masih bisa tersenyum sampe film berakhir (bahkan ketike scene mendadak nge-blue), karena gue nonton sama puluhan abege labil yang sangat alay. Gimana nggak senyum kalo banyak yang teriak nggak iklas pas Pasha cium nirina, bahkan sampe teriak-teriak disaat yang nggak tepat. Emang lagi nonton film horror? Hahaha...

rating 5/10

http://www.smileycodes.info

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar