Pages

Tradisi "Mengirik" Padi Yang Nyaris Lenyap Di Minangkabau

Bookmark and Share
Memanen padi dilakukan dengan banyak cara. Di beberapa daerah di Sumatera Barat dulunya padi yang sudah sabit untuk mendapatkan bulir-bulir padinya dilakukan dengan “mengirik” yaitu memelintir dengan telapak kaki bulir-bulir padi yang masih melekat pada tangkainya. Bila padi telah menguning biasa sipemilik sawah akan mempersiapkan segala sesuatu bagi makan dan minumum untuk orang-orang yang akan menyabit dan mengirik padi mereka.  Dan anggota keluarga ketika musim menyabit dan mengirik itu tiba, sangatlah senang hati mereka karena kaum kerabat berkumpul bersama-sama ditengah sawah. Saat-saat itu sekaligus menjadi  media  berbagi suka duka diantara mereka.

Malambuik padi - Foto:beyete 21/5/2011
Mengirik itu biasanya dilakukan setelah padi disabit dan ditumpuk selama dua atau tiga hari  di tengah sawah dan kemudian baru di "iriak".. Padi yang sudah ditumpuk ditengah sawah itu disebut juga dengan "lungguak" yang  tersusun dengan rapi  dengan bulir padi saling menghadap ke dalam.. Namun saat ini luangguak padi itu hampir tidak terlihat lagi di sawah-sawah di Minangkabau. Padahal  tradisi  mengirik padi itu merupakan bagian dari rasa kekerabatan orang-orang di ranah Minangkabau.  Tetapi cara itu sekarang nyaris sudah ditinggalkan dan kebanyakan dilakukan dengan cara “melambuik” seperti  umumnya dilakukan para petani padi di Jawa dan dilakukan oleh orang-orang upahan..

Tradisi mangiriak yang sarat nilai itu sekarang  sudah tidak terlihat lagi. Kini panen padi kebanyakan dilakukan oleh orang-orang upahan dan hal itu sekaligus memperlihatkan kian menipisnya budaya gotong royong di ranah Minangkabau. 

Mengiriak padi dengan “menyarayo” atau dibantu kaum kerabat sepertinya telah menghilang. Selain itu  mengirik ada fisofosinya sebagai memperlakukan padi dengan baik.. Padi dilambuik  dipandang sebagai cara memperlakukan padi kurang baik. Disamping itu dengan panen dengan cara malambuik yang dilakukan oleh orang-orang upahan selain menunjukkan renggangnya rasa kekerabatan , sekaligus  mengurangi pendapatan dari hasil bersawah ***

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar