Pages

Dari Gempa Besar: Kemandirian dan Ketegaran Rakyat Jepang Menghadapi Bencana Yang Patut Dicontoh

Bookmark and Share
Dunia hukum-- Masih ingat gempa besar dan tsunami yang melanda Jepang setahun lalu ? Tentu masyarakat dunia belum melupakannya, meskipun ekspose media atas gempa dan tsunami di Jepang itu tidak demikian heboh.  Tidak terlihat masyarakat Internasional turun tangan ikut menangani gempa Jepang seperti yang terjadi di Aceh beberapa tahun lalu.  Itukah tanda dari kemandirian dan ketegaran masyarakat Jepang menangani bencana  ?   BBC Indonesia (bbc.co.uk/indonesia, 11/3/2012) menyebutnya ketegaran dan kesigapan Jepang menghadapi musibah gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan negara itu tepat satu tahun lalu menggugah dunia.  Lebih jauh BBC Indonesia melaporkan;

Ali Khumaen (Foto: bbc.co.uk/indonesia)
Kesan itu ditangkap oleh Ali Khumaeni, seorang mahasiswa Indonesia yang sudah lima tahun menetap di negeri matahari terbit itu.

"Banyak makna yang bisa kita peroleh dari bencana itu, kita melihat Jepang yang kita anggap sebagai negara donor besar ketika menghadapi kondisi ini (tsunami), mereka tidak panik dan tidak berharap terlalu besar dari orang lain," kata Ali pada Pinta Karana dari BBC.

"Mereka cepat berusaha dan optimal melakukan usaha sendiri."

Ali adalah mahasiswa program doktor di Universitas Fukui di sebelah barat Jepang. Ia tinggal di kota Fukui bersama dengan istri dan anak balita mereka.

Lebih dari 5.000 orang meninggal dunia dalam bencana tersebut dan ribuan orang lainnya kehilangan rumah serta harta benda mereka.

"Bencana itu sungguh mengagetkan kita karena berlangsung tiba-tiba dan alhamdulillah kita khusushya masyakarat Indonesia yang berada di Jepang berusaha membangkitkan motivasi dan semangat masyarakat," kata Ali..

Layak diteladani

Ali melihat bencana itu justru membangkitkan motivasi dan semangat rakyat Jepang.

"Dan secara sosial mempererat hubungan sesama manusia," kata dia.

"Kita melihat pasca tsunami itu, masyarakat dan pemerintah Jepang khususnya bisa mengorientasikan seluruh aktivitas dari sisi elemen, departemen dan pemerintahan fokus melakukan recovery dari tsunami dan pemerintah cukup tanggap dalam memperbaiki prasarana di sana sehingga bisa memperbaiki aktivitas."

Hal yang sama juga disampaikan oleh juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.
"Pemulihan infrastruktur dilakukan secara cepat. Jalan tol di Tohoku Expressway selesai hanya 11 hari seteleh tsunami. Infrastruktur ini tidak hanya berkontribusi pada transportasi dalam pengiriman barang dan logistik saat darurat, tetapi juga memulihkan ekonomi Jepang,"kata Sutopo.

Ia juga memuji media Jepang yang menghormati para korban dengan mempublikasikan hal-hal yang memotivasi.

"Saat bencana, mass media tidak ada yang menyiarkan hal-hal yang menyedihkan. Mayat dan hal-hal yang membuat masyarakat panik, misal terkait PLTN mass media tidak boleh menyiarkan secara saintifik sehingga masyarakat menjadi panik. Justru berita-berita tentang semangat, kebersamaan, disiplin dan ketangguhan masyarakat yang ditonjolkan mass media. Ini ada kode etik jurnalistik yang selalu dipegang oleh mass media Jepang.

"Kita layak untuk belajar dari Jepang hal itu. Terlebih lagi Indonesia adalah negara nomor satu di dunia yang memiliki ranking penduduk berisiko tinggi dari tsunami. Lebih dari 5 juta jiwa hidup dalam ancaman tsunami."

Apa yang terjadi dalam masyarakat jepang saat terjadi bencana dan setelahnya, kiranya memang sebuah pembelajaran yang berharga bagi mayarakat Indonesia. Kemandirian dan ketegaran menghadapi bencana sudah seharusnya menjadi bagian dalam setiap diri bangsa Indonesia yang memang hidup di wilayah yang rawan bencana. Maka tentu sangat baik kalau kita belajar dari masyakat Jepang. * sember: bbc.co.uk/indonesia/ berita_indonesia/2012(boy yendra tamin) 

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar