Pages

Si Anak Kampoeng [2011]

Bookmark and Share

pertanyaan paling mendasar ketika gue melihat poster filmnya yang sangat nggak, nggak dan nggak banget karena cuma terdiri dari beberapa gambar yang dipotong terus digabungin jadi satu dengan sangat kasar adalah: siapa buya syafii maarif, yang juga dikenal sebagai guru bangsa, hingga membuat seorang damien dematra membuat buku biografinya lalu diangkat menjadi sebuah film layar lebar? Jujur aja, gue sebagai remaja labil masa kini sangat tidak tahu siapa sosok ini. sorry for that!

Dan ketika gue nonton filmnya pun, gue semakin nggak tertarik untuk mengikuti asal-mula seorang guru besar yang entah siapa ini. karena… ya, karena gue nonton cuma 20 menit doang. Terus setelah itu dengan suka cita memilih keluar studio 3 yang hanya berisi 3 orang termasuk gue dengan beberapa alasan. antara lain sudah mau mati beku karena AC di dalam bioskop heboh bener dan filmnya bikin gue pengen benturin kepala ke pintu masuk. lalu guepun nangis darah. mencoba merelakan uang 15 ribu yang terbuang percuma. tapi setelah gue pikir-pikir lagi, gak papa deh, sekali-kali amal sama yang punya hajat.

Sebenarnya nih—meski nggak tau juga seberapa benar—film ini bisa saja lebih baik kalo seorang Damien nggak seambisius itu melakukan marathon kerja di berbagai sudut untuk filmnya kali ini. mulai dari skenario, editor, penata musik, direksi fotografi sampe yang paling vital, sutradara. Karena mungkin saking ribetnya, dia nggak konsen sama apa yang mau disampein sama film ini.

20 menit adalah nyawa sebuah film. Kalo di 10 menit pertama film sudah gagal mengikat penonton untuk terus duduk anteng di kursi, secara keseluruhan pun akan gagal. Makanya gue berani bilang kalo film ini sangat nggak banget sama kayak posternya.

Film dibuka dengan kredit title dan backsound yang nggak singkron—meski menyebut-nyebut judulnya. kemudian bercerita tentang sosok pi’i berusia 3 tahun yang duduk gak jelas ngapain didepan pusara ibundanya yang udah meninggal. lalu berubah jadi umur 7 tahun dan gue langsung pengen mencret. Alasan yang cukup personal sih: karena muka si pemeran pi’i sangat ketuaan untuk anak berumur 7 dan nggak menjual.

Entah apa alasan Damien memilih nih anak pas kasting. Mukanya tuh entah kenapa bikin gue enek dan dalam 20 menit itu pula entah beberapa kali di close-up tanpa alasan. Demi nggak mau berlama-lama lihat mukanya yang oh pelis, no komen, gue memilih keluar. Karena selain bingung mau dibawa kemana nih cerita dan adegan-adegan yang tanpa nyawa dengan pemeran anak-anak bermuka tua—si cowok gendut yang badannya kayak anak SMA dan cowok bergigi maju 5 meter yang aktingnya kancut, makin membuat gue gak betah. Parahnya aktor sekelas pong harjatmo juga berakting sangat biasa hingga makin membuat gue stress mendadak.

Gue nggak tau film ini bakalan bener dibikin trilogi. kalau iya sih mungkin gue gak bakalan lihat. dan karena gue nggak nonton film ini sampe habis soalnya kata yang udah nonton pun nggak menarik sama sekali, gue gak mau ngasih rating atau apalah. Semua gue serahin pada penonton (yang betah ngelihat sampe habis).

Bukannya tidak menghargai film dengan genre berbeda, tapi filmnya sendiri memang nggak tau mau diapain meski udah membawa nuansa daerah sumatera dan menjanjikan hal-hal yang menarik. si anak kampoeng, sebuah produk gagal!

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar