Pages

5 Elang [2011]

Bookmark and Share

Keputusan sepihak ibu dan ayahnya untuk pindah rumah dari Jakarta ke Balikpapan membuat Baron (Christoffer Nelwan) kesal. Karena hal itu membuat dia kehilangan sahabat dan hobinya bermain RC. Apalagi menjelang lomba RC yang kian dekat. Tapi sebagai anak kecil, apalah yang bisa dia lakukan selain menuruti kemauan kedua orang tuanya meski dengan sangat berat hati. Makanya nggak salah kalau begitu sampai di Balikpapan, Baron enggan menjalin hubungan dengan dunia luar. Yang diurusi cuma mobil RC nya dan bagaimana cara agar dia bisa kembali ke Jakarta untuk mengikuti lomba.

Namun semua mimpi Baron berubah ketika seorang pramuka supel nan ambisius di sekolah barunya bernama Rusdi (Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan) memasukan nama Baron dalam regu inti Pramuka yang akan dikirim dalam kegiatan bumi perkemahan bersama teman-teman lain seperti Anton (Teuku Rizky Muhammad) si gembul yang hobi makan dan Aldi (Bastian Bintang Simbolon) si kecil yang tujuannya ikut pramuka hanya untuk mendekati Sandra, siswi sekolah lain yang berambut indah.

Meski awalnya menolak, Baron akhirnya turut serta dalam kegiatan itu demi sebuah misi khusus. Misi yang akan berhasil bila dia bisa memanfaatkan keluguan teman-teman barunya, termasuk Sindai (Monica Sayangbati), murid dari SD lain. Dimana akhirnya mereka berlima terjebak dalam suatu kasus yang nggak pernah mereka bayangkan. Bahkan nyawa mereka pun terancam bahaya. Sanggupkah anggota 5 elang ini lolos dari ancaman tersebut?

5 Elang adalah debut Rudi Soedjarwo dalam menukangi film bergenre anak-anak. Sekaligus sebagai kado istimewa untuk buah hatinya. Namun tetap saja, seperti ada yang salah dalam eksekusinya. Karena film ini tetap bercita rasa khas film-film drama remaja Rudi sebelumnya. Entahlah.. gue ngerasa nggak ada feel yang ditujukan untuk anak-anak selain fakta bahwa film ini dibintangi oleh pemain cilik berbakat dengan tema yang begitu lekat dengan siswa-siswi sekolah dasar, yaitu pramuka.

Alhasil, selama durasi berjalan gue sama sekali nggak respek sama film ini. 5 Elang terasa begitu membosankan padahal sedang menceritakan sesuatu hal baru yang menarik di layar lebar. Apalagi untuk konsumsi anak-anak dan keluarga. Namun seperti yang gue bilang tadi, konfilk yang ada di film ini, juga karakter-karater yang diciptakan, seperti karakter film remaja kekinian, dengan segala tingkah lakunya.

Ditambah kelewat banyaknya kejanggalan-kejanggalan yang sangat mengganggu disana-sini. Membuat film yang naskahnya ditulis oleh Salman Aristo terasa nggak begitu real. Belum lagi subplot tentang penebangan kayu ilegal yang memang sudah disinggung sedikit diawal dan dibuat berkembang besar diakhir secara tiba-tiba tanpa pengenalan terlebih dahulu, lalu dieksekusi dengan begitu mudah. Plus begitu labilnya pemikiran para tokohnya yang dengan cepat sekali bisa merubah pikiran seenak jidat. Dan jalan menuju perubahan itu pun dibuat dengan begitu mudah seperti membalikan telapak tangan. Oh please...

Beruntungnya akting lima bocah di film ini cukup mumpuni meski rada kaku juga pada durasi awal. Dan kredit tersendiri gue berikan untuk Monica sayangbati. Gak tau kenapa, meski pemunculan karakternya maksa dan hanya untuk pemanis, gue suka akting cool dia. Pun dengan setting yang menyegarkan mata dan scoring olahan Bembi Gusti yang cukup memberi napas tersendiri.

Meski masih ada banyak kekurangan, ditengah mirisnya perkembangan film anak di negeri sendiri, gue tetep salut sama film ini. Karena 5 Elang seolah membawa kembali film bernapaskan anak-anak dengan tema 'terlupakan' untuk dijadikan sebuah bahan jualan yang kemudian akan diingat pesan-pesan moralnya oleh mereka. Ya, khusus anak-anak saja. Karena sajian ini terlalu mengecewakan untuk konsumsi dewasa. Apalagi remaja.  Kecuali mereka datang hanya untuk menemani anak atau saudara kecil yang butuh hiburan.

By the way, masih berminat menonton kelanjutan aksi mereka dalam sekuelnya jika memang nanti beneran dibuat seperti tulisan yang muncul di kredit akhir?

Rating 4/10

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar