Pages

Anakluh [2011]

Bookmark and Share

“Kebencian hanya akan membuang energi yang baik...” - Idayu

Gimana jadinya kalo ibu dan anak sama-sama jatuh cinta pada satu laki-laki yang sama? Seperti itulah konsep sederhana yang ditawarkan oleh Anakluh. Sebuah film yang diangkat dari novel Anakluh Berwajah Bumi karya Ugi Agustono. Konsep yang cukup menarik memang. Itupun jika dieksekusi dengan baik. Namun sayang, sutradara sekelas Eduart Pesta Sirait yang memulai karir sejak 1976 dan menelurkan film-film sukses pada masanya seperti Chicha yang mendapat penghargaan festifal film di Cairo pada tahun 1977, Gadis Penakluk, Bila Saatnya Tiba, Blok M sampe karya terakhirnya, Joshua Oh Joshua, enggan meng-up to date cara mendirect hingga berkesan sangat old style sekali. Terlihat dari penggunaan footage yang itu-itu mulu tiap perpindahan adegan. Mungkin niatnya ingin menjelaskan latar tempat, tapi apa perlu hampir disetiap perpindahan scene? Oh come on.

Jadinya guepun bingung mau menyalahkan siapa, sang sutradara atau penulis naskah filmnya; Muzafarsyah dan Ugi Agustono yang juga bertindak sebagai salah satu produser, kenapa filmnya jadi seperti itu. Harusnya setelah tau ada campur tangan langsung dari penulis novel, Anakluh yang dalam bahasa Indonesia berarti perempuan, bisa lebih sedikit mempunyai gereget. Tapi entah kenapa 89 menit berlalu, film ini tampak terburu-buru dalam penjabaran ceritanya. Beberapa momen yang diharapkan bisa menarik simpati malah berakhir garing. Belum lagi nuansa Bali yang digembor-gemborkan bakal membuat film ini berbeda, meski terlihat indah dalam pengambilan angle-nya, malah hanya berkesan tempelan semata. Bagian terparah adalah kesetiaan film ini pada novelnya yang enggak menjelaskan pekerjaan karakternya.

Disebut film televisi nyasar ke bioskop? Bisa jadi, meski kualitasnya sedikit diatas. Tapi entah kenapa menurut gue film ini nggak perlu banget masuk ke bioskop. Toh ketika rilis di bioskop pun hanya tayang dibeberapa tempat lalu hilang begitu saja tanpa bekas. Kenapa bisa begitu?

Mungkin nih, alasan pertama dari novelnya yang masih begitu asing dan belum seterkenal buku lain yang diadaptasi ke layar lebar lebih dulu. Kedua, market yang dituju jelas untuk wanita. Remajapun paling cuma segelintir. Apalagi dengan tema chicklit banget, mana ada labilers cowok yang mau nonton? Ketiga, kurang promo dan poster yang nggak mempunyai daya tarik. Keempat, para pemain yang kurang menjual. Selain Rizki Hanggono, gue belum begitu familiar dengan Shara Aryo yang menjadi tokoh sentral sebagai single mother dan Suci Winata yang berperan sebagai Kirei. Kalo Masayu Clara sih sering liat dia di sinetron. Makanya nggak kaget kalo akting para pemain masih rada kaku dan rada lebay a la sinetron kita. Yang paling parah malah ada yang berakting kayak hafalan rumus matematika didepan kelas. Haha… bagian castingnya parah banget. Minimal, biarpun figuran atau pemain pendukung, cari talent yang rada bener dikit kek. Kan rugi udah buang duit buat bayar mereka kalo hasil aktingnya kayak robot korslet. Sedang kemungkinan terakhir paling balik ke soal minimnya bujet produksi dan kopi rol film.

Rasanya bagian menyenangkan dari film ini adalah masuknya lagu-lagu dari Seventeen yang cukup familiar dan enak didengar meski kadang agak janggal penempatannya. Selebihnya Anakluh hanyalah drama picisan dengan konklusi akhir yang mendarah daging serta dipenuhi adegan serta akting khas sinema elektronik. Menghibur memang, namun akan begitu sangat mudah dilupakan.

Rating 4/10

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar