Pages

Di Bawah Lindungan Ka'bah [2011]

Bookmark and Share

“Disaat kita sendirian dan tiada seorangpun kecuali Allah. Ingatlah satu hal, Allah saja, sudah lebih dari cukup.” – Emak

Bersetingkan tahun 1920-an di tanah Minang, hiduplah dua manusia yang tumbuh besar bersama: Hamid (Herjunot Ali) dan Zainab (Laudya Chintya Bella). Pun seperti kata pepatah jawa, cinta lahir karena terbiasa, rasa ingin memiliki juga tumbuh diantara mereka. Sayangnya angan itu harus terpendam karena perbedaan kasta. Zainab adalah putri dari Haji Jafar (Didi Petet), pengusaha terpandang di kampungnya. Sedang Hamid adalah anak dari seorang pembantu yang bekerja di rumah Zainab. Masalahnya, bagaimana mungkin anak seorang pembantu berani meminang anak sang majikan? Lalu bagaimanakah kisah cinta Hamid dan Zainab? Dapatkah takdir menautkan cinta dan mimpi mereka sampai ke Ka’bah?

Terus terang, sosok ulama besar Indonesia sekaligus penulis populer pada jamannya bernama Buya Hamka ini baru eksis di pikiran gue setelah media massa heboh memberitakan bahwa MD Pictures bakal mengadaptasi kisah roman tulisan beliau yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah ke layar lebar. Apalagi dengan bujet fantastis yang digembar-gemborkan. Seolah ingin mendobrak tradisi bahwa penonton juga harus tahu jumlah dana yang dikucurkan untuk sebuah film. Dimana biasanya para sineas enggan mengkonfirmasi soal itu. Gue makin niat ngebrowse seperti apa sih novelnya. Dan gue menemukan fakta bahwa pada tahun 1977 sutradara bernama Asrul Sani pernah lebih dulu mengadaptasi novel setebal 30 halaman. Bedanya, film yang dibintangi oleh Cok Simbara dan Camelia Malik tersebut berjudul Para Perintis Kemerdekaan dengan perubahan vital disana-sini namun tetap memiliki tema yang sama. Lalu bagaimana dengan adaptasi yang dinahkodai oleh Hanny R. Saputra ini?

Jujur, dari awal gue udah gak respek sama film ini. Apalagi ada nama Hanny dengan track record penyutradaraanya yang makin menurun disetiap film. Tapi nyatanya, kekecewaan gue sia-sia. Karena entah gimana cara, Hanny membuat film yang naskahnya ditulis oleh duet Armantono (lagi) dan Titien Wattimena ini begitu filmis. Jauh dari kesan sinetronish seperti karya dia sebelumnya. Sayangnya usaha Hanny seperti sia-sia karena naskah yang dia eksekusi banyak memiliki lubang hingga membuat film ini makin aneh untuk dinikmati.

Entah untuk mengulur-ulur waktu atau apa, banyak sekali adegan gak penting yang juntrungannya bernada too much. Seperti adegan tertawa-tertawa di awal film yang banyak membuang slot tanpa tujuan yang jelas ditambah proses dubbing suara tawa yang kasar banget. Trus munculnya karakter Arifin (Ajun Perwira) yang berasa cuma sumplan ga berarti meski konfilk yang dihadirkan dari karakternya amatlah vital. Plot soal sakitnya Zainab dan Hamid yang tiba-tiba tanpa dijelaskan kenapa mereka bisa tiba-tiba seperti itu. Dan tentu saja, iklan-iklan yang dengan seenaknya muncul. Gue nggak tau apa pentingnya iklan itu ada disitu. Yakin banget penonton keluar bisokop bakal langsung beli produk yang ditampilkan setelah melihatnya. Apalagi penyajiannya dilakukan secara frontal seperti itu. Harusnya Hanny bisa lebih menyiasati agar iklan kacang, cokelat dan obat nyamuk itu nggak terlalu annoying dilihat. Nggak salah kalo akhirnya film ini jadi keliahatan sangat tolol. Pesan singkat aja buat Pak produser yang terhormat, "Anda telah merusak film anda sendiri dengan cara yang super duper tolol!" Nggak heran kalo satu studio tertawa terbahak.

Nggak cuma itu aja, harusnya kalo untuk pangsa dalam negeri nggak perlu lah dikasi subtitle inggris segala. Boleh sih boleh aja, asal kalo bikin subtitle yang bener, jangan ngaco. Udah muculnya kadang cepet, kadang lambat, bahkan nggak muncul dan gue asumsiin kalo tukang translate bahasa inggrisnya lupa bawa kamus atau dengan bodohnya ngga buka google, gramarnya dibikin seenaknya sendiri alias ngaco.

Dari segi akting gue nggak ada masalah, Bella dan Junot meski rada kurang chesmistry namun mereka bisa tampil prima. Lihat saja beberapa adegan emosional yang sukses dihadirkan berkat mimik mereka. Nggak lupa juga dengan para pendukung yang bermain sesuai porsi.

At least, film ini masih bisa dinikmati jika kalian mampu memaafkan kecerobohan ups.. maksud gue kesengajaan yang dilakukan orang-orang dibelakang layar. Dan untuk masalah lain seperti soal dialek Minang yang kata temen gue ngasal abis itu, gue enggan berkomentar karena nggak tau juga gimana dialek sebenarnya seperti apa. Dan nggak mau sok ngejudge biar kelihatan lebih pintar haha…

Bagi gue, masih mending film ini dibanding Love Story yang rilis di awal tahun. Meski sama-sama beritme lambat, gue nggak merasa bosan sama film yang scoringnya dikerjakan oleh Tya Subiakto dengan begitu pas dan megah meski terkadang sedikit salah latar mengingat film ini berseting tahun 1920, bukan 2011. Jangan lupa dengan seting art, dekorasi dan properti yang juara, meski pas adegan di Ka’bah kasar banget ngeditnya. Gue tau loh kalo pake green screen. Juga beberapa lokasi yang meningatkan gue akan film Love Story. Atau jangan-jangan film ini numpang syuting pas Hanny tengah menggarap film yang dibintangi Acha Septriasa dan Irwansyah tersebut? And then, guepun bertanya-tanya, kok gini doang hasilnya dengan biaya yang katanya mencapai 25 milyar? Gini doang? Cih, malah lebih meyakinkan film Ayat-Ayat Cinta padahal bujet soal jelas berbeda. Namun Hanung dengan pintar mampu menyiasati agar tampak real. Ya sudahlah... kita tunggu saja hasilnya nanti. Mampukah Di Bawah Lindungan Ka'bah memenuhi harapan produser untuk mendapatkan banyak penonton?

Rating 4.3/10

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar